Curi-curi momen di antara kerjaan

Ceritanya akhir bulan Maret kemarin saya jadi asisten Ponti lagi, bantu dia shooting di Malaysia bareng Embara films bikin video yang nantinya diputar pas peresmian museum Islam di salah satu kota disana. Apa tugas saya sebagai asisten? Singkatnya ngelancarin workflow Ponti dapetin semua shoot yang dia perlu. Kedengerannya cukup simpel, ngeset tripod dan kamera di lokasi, ganti lensa dan baterai, sama jagain pas timelapsing. Oh iya, juga mastiin kamera dan aksesorisnya tetap terjaga kondisinya dan lengkap semua.

Dibalik simpelnya, saya merasa kerjaan ini cukup berat, like literally. Disana saya bawa tripod ber-fluid head, dan Sony FS 700 plus backpack isi lensa dan baterai cadangan yang bobotnya kurang lebih 12kg (17kg kalo kamera dan laptop masuk) setiap hari, berpindah-pindah lokasi.

Yup, ini tasnya, fully loaded. Yang kanan saya, Febian dengan tas yang hampir sama gedenya.  (Photo: Ponti Ramanta)

Yup, ini tasnya, fully loaded. Di kanan saya, Febian dengan tas yang hampir sama gedenya (Photo: Ponti Ramanta)

Berita baiknya, saya ga perlu workout pagi-pagi seperti kebiasaan saya belakangan ini di rumah. My job itself is a workout. Tapi percaya deh, buat kerjaan video itu masuknya ringan dan ringkas. Continue reading

Advertisements

Dibalik nama soul94rage

An Insight to the Name

“Soul94rage|cangkir, asbak, kunci-kunci, bangkai motor”. Itu yang muncul kalau cursor mouse hovering di tab browser. Mungkin ada yang perlu saya tambahin: kamera dan laptop, biar agak techy gitu. Btw, nama soul94rage bukan sengaja saya pilih karena isinya bakal kental soal motor. Sebetulnya saya mengambil perumpamaan tentang hubungan garasi dan mesin (machine, bukan engine) dan aktivitas yang terjadi dalam sebuah garasi. Bukan hanya menjadi tempat beristirahat, dalam garasi juga terjadi berbagai proses lain. Perbaikan, upgrade, kustomisasi dan restorasi misalnya. Dan mesin sebetulnya pengibaratan dari manusia, dalam hal ini: saya. Garasi jiwa saya.

Sepeda motor memang jadi bagian besar dari kehidupan saya. Mungkin itu juga yang bikin saya keukeuh pake “garasi” buat nama blog ini. Dan seperti yang sempat ditulis di post sebelumnya, adanya project Shootupnride.com menjerumuskan saya ke dunia fotografi (dan kini videografi). Jadi ngga ada salahnya kalau saya tulis juga soal hal yang –kini,akhirnya– jadi pekerjaan saya.

dhey in fog soul94rage

Superthanks Dewi Yuliani buat foto di atas.

Sejujurnya, dulu saya ngga pernah bercita-cita jadi fotografer (apalagi cameraman). Saya pernah membayangkan diri saya di masa depan sebagai dosen, Public Relations Officer, stuntrider atau instruktur riding school. Sekarang saya bermain kamera, for a life and a living. It seems life is a mystery indeed. Continue reading

Tips: Berkendara di Hari yang Berangin.

foto pinjem punya shootupnride

foto pinjem punya shootupnride

Cuaca di Bandung belakangan ini sebenarnya cocok untuk riding, termasuk anginnya yang ngingetin saya sama pantura. Well, ngga semua orang suka angin kenceng begini, terutama yang motornya mungil. Saya paham banget, nginget motor operasional shootupnride wujudnya cub 125cc, jadi faktor ini bener-bener mempengaruhi situasi riding di jalan. More fun? yeah. Tapi tentu perlu perlakuan khusus.

Now, I’ll try to share some riding tips that might help you to ride safer on windy days. Continue reading

daytime mumbles: Scars

One day when I sat relaxing myself, sometime I look at the skin on my legs and hands. Some bruises are showing, and I tried to remember “When did I get this one?”

And so the mental time travelling began.

Saya mengingat kembali bagaimana saya jatuh, kesalahan apa yang saya lakukan waktu itu, apa saya mengulanginya lagi pada masa kemudian. Dan apa saya belajar dari kesalahan itu.

Entah dilakukan dengan sengaja atau tidak, saya terkadang menemukan diri saya memandangi Sherry dengan pemikiran yang sama, mengingat motor ini yang jadi bahan eksperimen saya dalam menyelami ilmu riding (berikutnya adalah Anisetta). Motor ini tidaklah mulus, Kebanyakan dari lukanya hasil ulah saya. Peringkat keduanya adalah tukang parkir.

Mungkin kalian ada yang bertanya “Itukah alasan kamu cat ulang Sherry dengan pola tangki CB superfour?”
Bukan. Saya cuma ingin Sherry dipersonalisasi, sebisa mungkin dimiripkan dengan kepribadian saya: kalem, simpel, santai -yes, that is how I see myself-.

It doesn’t last for long. Pada faktanya tampilan Sherry jadi kacau setelah prioritas saya antara merawat dan memakai bereskalasi dari 50:50 jadi 5:95.

Kenyataan berbicara lebih jujur: saya aslinya jorok, begajulan, dan KERE. Seperti yang ia tuliskan di sekujur motor saya. I leave the scratches, and let some of it rusts. I repeat: kenyataan bicara lebih jujur, soal saya dan hubungan dengan motor saya. Soal saya menikmati motor. Lebih jauh lagi, menikmati hidup.

I never pretty sure why I enjoyed motorcycling so much. Terlalu banyak alasan untuk dikemukakan, tidak pernah pasti dan berurut. Selalu berubah waktu ke waktu. Karena seiring bertambahnya pengalaman saya berkendara, semakin banyak pengalaman dan cerita yang saya dapat, semakin penuh isi kepala saya. Anehnya, semua itu seakan tidak pernah cukup. I wanna ride and ride and keep riding.

Ah, back to the topic. Ngga semua orang suka melihat motornya ‘cacat’. Ini pun sesuatu yang admirable, saya mengalaminya juga. I enjoyed the the beauty of the machine, begitu pula apresiasi orang lain yang berkata “kalau mau dijual hubungi saya, ya mas”. Sayangnya, tidak pernah terlintas di kepala saya, orang lain akan merawat Sherry. As if it just for me, forever. Ada masanya dimana saya seringkali pulang larut malam dan menyempatkan untuk mencuci Sherry dan menunda waktu tidur. Ah, terima kasih, saya tahu saya rajin. Rajin demam.
Lagian malam-malam kok basah-basahan.

Dan ya, waktu sakit saya jadinya mengurangi waktu riding saya. Saya berpikir keras, Is this worth to do this over and over again? Sakit gara-gara ngerawat motor?

Jadi saya coba lagi mencari apa yang sebenarnya saya cari dari semua kebodohan ini? Saya mau motor yang kinclong dan terawat atau hati yang puas karena main dengan total?

Kayanya saya pilih yang kedua aja.

Short Meet with Adhani

Beberapa waktu kemarin admin gendut 0f SnR, Reyhan Firdaus datang ke Bandung. Kali ini dia ga bawa motor. Dia naik bus supaya bisa ngirit tenaga, sekalian mempertajam indera fotografernya. Mengamati lebih banyak detail katanya.

Dia ga datang sendirian, tebak dengan siapa? with a strider. Salah seorang blogger buddy juga, Adhani Jauhari of adhanihoree.

adhani-reyhan soul94rage.wordpress.com

Di pertemuan yang cuma sebentar ini, bukannya kami suguhi, malah kami kerjain dia ikut ngerekam kemana-mana. Kebetulan saya sedang bantu2 Ponti dengan rekaman Skateboarding Day 2013 di Bandung.

To Adhani, sorry for the busy time, matey. Next time we’ll make it even better. Lebih lama, dan lebih bodoh tentunya. Hahaha..